Cerita Rakyat dan Motivasi China »

| One Comment | 11,536 views

*** Menggantungkan Lentera Merah ***
Menjelang akhir Dinasti Ming, perampok “Da shing King (闖王)” Li Zi cheng (李自成) dan anak buahnya berencana menyerah kota Kaifeng (開封), salah satu Kota yang sangat besar waktu itu. Da shing …

Read the full story »
Cerita Rakyat Nusantara

kumpulan cerita rakyat, legenda dari seluruh wilayah di indonesia

Cerita Rakyat & Motivasi Luar Negeri

kumpulan cerita rakyat dan motivasi dari china, america, dari negara – negara laen di luar Indonesia

Mitos | Myth

Kumpulan cerita Mitos dan Myth yang masih belum di ketahui kebenarannya

Dongeng | Cerita Anak

kumpulan cerita dongeng, cerita anak untuk memberikan inspirasi dan motivasi

Cerita Motivasi

Kumpulan Cerita Motivasi dan Inspirasi, membuka wawasan dan pengetahuan kita dengan bijak

Home » Cerita Rakyat Nusantara

Si Pitung

Submitted by No Comment | 8,030 views

si Pitung

Dalam Masyarakat Indonesia banyak sekali tokoh legendaris dan salah satu nya adalah Si Pitung tokoh Betawi dari Jakarta. Dalam kehidupannya dia membatu dan membela rakyat kecil Sehingga, dia dikenal juga oleh sebagai “Robin Hood dari Betawi”.

*** Si Pitung ***

Di suatu desa yang kecil, tinggallah seorang bapak dan ibu yang dalam Sehariannya ia bekerja sebagai petani, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Si Pitung. Sebagaimana dengan anak – anak betawi lainnya Si Pitung dibesarkan dalam keluarganya sendiri dan diajarkan untuk membantu orang tuanya. Dan juga belajar mengaji.

Si pitung merupakan anak yang rajin dan saleh. Setelah agak dewasa Pitung belajar pengetahuan agama dan silat serta ilmu bela diri lainnya dari Haji Naipin, seorang ulama yang dihormati di kampungnya. Karena Si pitung rajin berlatih ia menjadi murid kesayangan dari gurunya dan hampir semua ilmu gurunya diajarkan kepadanya.

Meski menjadi murid kesayangan Haji Naipin, tetapi Pitung selalu rendah hati. Kepada orang lain ia selalu bersikap santun dan terpuji. Ia pun tak luput dari gejolak masa muda. Ia menjalin hubungan dengan Aisyah, dan berjanji akan menikah bila kelak usia mereka sudah pantas untuk menikah.

Pada suatu hari, membantu warga di sana dari ceteng – ceteng Babah Liem ( segerombolan yang sering menganggu di daerah sana). Ia menyerang Pitung dengan semua kemampuan mereka, mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun, tanpa di duga Pitung malah membalas mereka dengan membantingnya ke tanah hingga pingsan.  Ada lima centeng yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia hajar tulang kering atau pelipis mereka hingga kesakitan. Lalu mereka menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi buah bibir di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak mau congkak. Ia bahkan menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.

Suatu hari, Ayah Si Pitung menyuruh Si Pitung Menjual Kambing untuk kebutuhan mereka. Tetapi setelah selesai menjual kambing tersebut dan mendapatkan uangnya, uang tersebut di curi oleh para ceteng – ceteng Babah Liem. Setelah sadar bahwa uangnya hilang dia pergi kembali ke pasar untuk mencari pelakunya, setelah ia melakukan penyelidikan ia menemukan orang yang mencuri uangnya. Orang itu sedang berkumpul dengan centeng-centeng lainnya di sebuah kedai kopi.

Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”

Salah seorang berkata, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”

“Cuh! Tak sudi aku jadi maling,” jawab Pitung dengan kasar.

Mendengar perkataan itu, Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu orang Babah Liem kena tinju Si Pitung. Yang berani menggunakan senjata malah dimakan sendiri oleh senjata mereka.

Semenjak kejadian itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata yang ditindas. Nama Pitung menjadi harum di kalangan rakyat jelata. Namun, pada saat yang bersamaan Para tuan tanah dan orang-orang yang mengambil keuntungan karena memihak Belanda menjadi tidak tenteram. Mereka mengadukan persoalan itu kepada pemerintah Belanda.

Penguasa penjajah di Batavia memerintahkan pasukannya untuk menangkap Si Pitung. Schout Heyne, memerintahkan polisi dan penjaga keamanan disana untuk mencari tahu keberadaan Si Pitung. Pengumuman pun di sebarkan kemana – mana, yaitu hadiah akan di berikan bagi orang yang dapat menangkap Si Pitung.

Mengetahui dirinya menjadi buron, Pitung berpindah-pindah tempat, bahkan pernah sampai ke Marunda. Selama itu, ia tetap melaksanakan perampasan harta orang-orang kaya, para demang dan tuan tanah. Harta rampasan selalu ia berikan kepada rakyat yang lemah dan tertindas oleh penjajahan.

Karena kesusahan dan kewalahan dengan Si Pitung. Schout Heyne memerintahkan orang untuk menangkap Orang tua dan Haji Naipin. Mereka berdua pun dibui di Grogol, untuk memancing Si Pitung Keluar dari persembunyiannya. Sementara, Si Pitung terus menjalankan kegiatannya. Namun, ketika mendengar kabar bahwa ayah dan gurunya ditangkap polisi. Ia mengirim pesan jika kedua orang itu dibebaskan, ia bersedia menyerahkan diri. Schout Heyne setuju.

Pada hari yang ditentukan, mereka membawa Haji Naipin ke tanah lapang. Pak Piun sudah lebih dulu dibebaskan. Di tanah lapang itu, sepasukan polisi menodongkan senjata kepada Haji Naipin. Pitung muncul sendirian. Schout Heyne menyuruh Pitung menyerah. Pitung meminta agar Haji Naipin dilepaskan dulu.

“Huh, tertangkap juga kamu, Pitung!” Schout Heyne berkata dengan nada sombong.

“Iya, tapi nanti aku pasti akan lolos lagi. Dengan orang pengecut seperti kalian, yang beraninya hanya mengandalkan anak buah, aku tidak takut,” jawab Pitung.

Schout Heyne menjadi marah. Memberi aba-aba agar pasukannya bersiap menembak. Namun, perintah menembak sudah diberikan pasukan disana menembak dan Pitung pun roboh bersimbah darah.

Pitung dimakamkan beberapa hari kemudian. Banyak rakyat yang turut mengiringi pemakamannya dan mendoakannya. Mereka akan selalu mengingat jasa Si Pitung, pembela dan pelindung mereka.

Beberapa bulan kemudian Schout Heyne dipecat dari jabatannya karena ia telah menembak orang yang tidak melawan ketika ditangkap.

*** Cerita Rakyat Si Pitung ***

Si Pitung gugur sebagai pahlawan dan dikenang. Kisah Si Pitung Berkembang menjadi cerita rakyat berbagai versi, kemudian di cetak menjadi majalah dan buku. Kisah ini juga diproduksi menjadi film seperti Titisan Si Pitung

 

Tags: ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*