Cerita Rakyat dan Motivasi China »

| One Comment | 12,253 views

*** Menggantungkan Lentera Merah ***
Menjelang akhir Dinasti Ming, perampok “Da shing King (闖王)” Li Zi cheng (李自成) dan anak buahnya berencana menyerah kota Kaifeng (開封), salah satu Kota yang sangat besar waktu itu. Da shing …

Read the full story »
Cerita Rakyat Nusantara

kumpulan cerita rakyat, legenda dari seluruh wilayah di indonesia

Cerita Rakyat & Motivasi Luar Negeri

kumpulan cerita rakyat dan motivasi dari china, america, dari negara – negara laen di luar Indonesia

Mitos | Myth

Kumpulan cerita Mitos dan Myth yang masih belum di ketahui kebenarannya

Dongeng | Cerita Anak

kumpulan cerita dongeng, cerita anak untuk memberikan inspirasi dan motivasi

Cerita Motivasi

Kumpulan Cerita Motivasi dan Inspirasi, membuka wawasan dan pengetahuan kita dengan bijak

Home » Cerita Rakyat & Motivasi Luar Negeri, Cerita Rakyat dan Motivasi China

Orang yang pintar ketika muda

Submitted by No Comment | 5,611 views

小時了了大未必佳

Orang yang pintar ketika muda

Xiǎo shí liǎo liǎo - 小時了了

Orang yang pintar sewaktu kecil, belum tentu sukses sewaktu dewasa

Pada akhir Dinasti Han Timur (tahun 25-220) ada seorang anak kecil yang sangat pintar bernama Kong Rong. Ia mengikuti ayahnya pindah ke kota Luo Yang ketika berusia sepuluh tahun. Di kota tersebut, Kong Rong ingin bertemu dengan Li Yuan Li yang sangat terkenal.

Lalu pada suatu hari Kong Rong pergi seorang diri menemui Li Yuan Li. Saat tiba di depan rumahnya, ia diterima oleh penjaga pintu. Melihat yang datang hanya seorang anak kecil, penjaga pintu hanya melayani sekadarnya. Karena merasa tidak dilayani dengan baik, Kong Rong dengan gaya dan nada seakan-akan orang penting berkata, “Saya adalah family Tuan Li Yuan Li.” Mendengar hal itu, tanpa banyak bertanya lagi penjaga pintu mempersilakannya masuk.

Saat bertemu, Li Yuan Li merasa asing dan tidak mengenal Kong Rong. Ia lalu bertanya, “Anda dengan saya mempunyai hubungan family apa?” Mendengar pertanyaan ini, Kong Rong lalu menjelaskan silsilah nenek moang mereka berdua. Ternyata memang ada hubungan di antara kedua marga tersebut beberapa ratus tahun yang lalu. “Bukankah itu menandakan bahwa di antara kita ada hubungan keluarga?” lanjut Kong Rong. Karena Kong Rong pintar berargumentasi, Li Yuan Li pun senang dan kagum padanya.

Pada kesempatan yang sama bertandang pula seorang pejabat terkenal bernama Chen Wei ke rumah Li Yuan Li. Ia turut mendengarkan cerita Kong Rong, dan mendengar bagaimana orang-orang yang ada disitu memujinya. Chen Wei yang angkuh dan sombong memandang sebelah mata kepada Kong Rong dan hanya menganggapnya sebagai anak ingusan. Kemudian ia berkata, “Orang yang pintar sewaktu kecil, belum tentu sukses setelah dewasa (xiǎo shí liǎo liǎo dà wèi bì jiā – 小時了了大未必佳).” Mendengar kata-kata itu, Kong Rong dengan tenang mananggapi, “Kalau begitu, Tuan saat kecilnya pasti pintar bukan?” Chen Wei terperangah, tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tak jarang kita melihat anak-anak yang pintar dan sukses di sekolah ternyata gagal setelah dewasa atau setelah terjun ke masyarakat. Mengapa bisa begitu? Hal ini telah diselidiki oleh para ahli dan didapat kesimpulan bahwa untuk meraih kesuksesan seseorang tidak bisa mengandalkan IQ semata, tetapi harus pula mengembangkan EQ-nya. Kombinasi kesuanyalah yang menjadi kunci keberhasilan seseorang. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa untuk meraih kesuksesan dibutuhkan 20% IQ dan 80% EQ.

Kisah Tambahan 1:

Cao Cao adalah seorang jenderal dan penguasa yang sangat terkenal di kerajaan Wei. Ia sepenuhnya mengontrol raja muda Dinasti Han pada masa Tiga Negara (sān guó) tahun 220-280.

Suatu ketika Cao Cao menerima hadiah seekor gajah yang sangat besar. Cao Cao ingiin sekali mengetahui beratnya, namun tidak seorangpun dari para jenderalnya yang bisa membantu, karena timbangan yang ada pada saat itu terlalu kecil untuk menimbang seekor gajah.

Mengetahui hal ini, Cao Chong anak Cao Cao yang baru berusia lima tahun menawarkan jasanya untuk membantu. Ia menyuruh pawing menaikkan gakah itu ke atas perahu. Lalu ia membuat garis untuk menandai batas sejauh mana perahu itu masuk ke dalam air. Selanjutnya gakah itu diturunkan lagi dari perahu.

Untuk mengetahui berat gajah, perahu itu kemudian diisi batu-batu sampai masuk ke dalam air sebatas garis tadi. Setelah itu batu-batu dikeluarkan dan ditimbang. Total berat semua batu sama dengan berat gajah.

Kisah Tambahan 2:

Suatu hari Cao Chong melihat penjaga gudang duduk termenung seorang diri dan tampak sedih. Ketika ditanya, penjaga gudang menyatakan bahwa pelana kuda kesayangan Cao Cao, ayah Cao Chong berlubang karena digigiti tikus. Kalau hal ini diketahui Cao Cao, penjaga gudang itu bisa dihukum berat. Cao Chong merasa kasihan kepada penjaga gudang itu, lalu ia membisikkan sesuatu kepadanya.

Sekembalinya di rumah, Cao Chong mengambil bajunya dan melubanginya dengan pisau, sehingga baju itu tampak seperti bekas digigit tikus. Lalu suatu hari, ketika ayahnya sedang duduk-duduk santai, Cao Chong menghampiri ayahnya sambil berkata, “Ayah…ayah…lihat! Bajuku digigit tikus.” Pada saat itu pula, penjaga gudang membawa pelana kuda Cao Cao dan melaporkan bahwa pelana itu berlubang karena digigiti tikus. Melihat hal itu Cao Cao tidak marah, ia hanya berkata, “Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu lihat, baju anakku juga digigiti tikus.”

Tags: ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*