Cerita Rakyat dan Motivasi China »

| One Comment | 11,762 views

*** Menggantungkan Lentera Merah ***
Menjelang akhir Dinasti Ming, perampok “Da shing King (闖王)” Li Zi cheng (李自成) dan anak buahnya berencana menyerah kota Kaifeng (開封), salah satu Kota yang sangat besar waktu itu. Da shing …

Read the full story »
Cerita Rakyat Nusantara

kumpulan cerita rakyat, legenda dari seluruh wilayah di indonesia

Cerita Rakyat & Motivasi Luar Negeri

kumpulan cerita rakyat dan motivasi dari china, america, dari negara – negara laen di luar Indonesia

Mitos | Myth

Kumpulan cerita Mitos dan Myth yang masih belum di ketahui kebenarannya

Dongeng | Cerita Anak

kumpulan cerita dongeng, cerita anak untuk memberikan inspirasi dan motivasi

Cerita Motivasi

Kumpulan Cerita Motivasi dan Inspirasi, membuka wawasan dan pengetahuan kita dengan bijak

Home » Dongeng | Cerita Anak

Bawang Merah dan Bawang Putih

Submitted by No Comment | 18,970 views

bawang merah dan bawang putih

Cerita Dongeng – Bawang Merah dan Bawang Putih

Zaman dahulu kala tinggallah sebuah keluarga di sebuah desa, mereka bersama dengan Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis. Pada suatu hari ibu Bawang Putih sakit keras dan akhirnya meninggal. Bawang putih beserta dengan ayahnya sangat sedih akan kepergian ibunya.

Di lain tempat, ada sebuah desa kecil juga tinggallah seorang janda, dia mempunyai seorang anak bernama Bawang Merah. ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih, sejak ibu Bawang putih meninggal., membantu bawang putih dalam pekerjaan rumah, terkadang mereka hanya bercakap – cakap saja. Akhirnya timbullah sebuah ide untuk menyuruh ayahnya menikah lagi dengan ibu Bawang merah. Pernikahan pun berlangsung.

Pada awalnya mereka rukun dan damai, tapi lama – kelamaan keadaan tidak sesuai dengan yang di harapkan. Sering sekali ibu bawang merah memarahi bawang putih dan terkadang memaksa bawang putih terus menerus bekerja. Tentunya ayah Bawang putih tidak mengetahui hal ini, dan Bawang putihpun tidak menceritakan hal tersebut kepada Ayahnya.

Hingga Suatu hari Ayah Bawang putih meninggal dunia karena suatu penyakit. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin semena-mena terhadap Bawang putih. Semua pekerjaan di serahkan kepada Bawang putih, hampir tidak ada waktu istirahat untuk dia. Terkadang pekerjaannya di lakukan sampai larut malam.

Suatu hari di pagi hari Bawang putih pergi membawa bakul yang berisikan pakaian untuk di cuci ke sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Bawang Putih dengan gembira dan bernyanyi sambil mencuci pakaian kotornya. Tetapi karena terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari salah satu bajunya hanyut terbawa arus, yang di mana baju tersebut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Dengan rasa penyesalan dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

Sesampainya di rumah bukan maaf yang di dapatkannya, tetapi caci maki yang harus di terimanya. Bawang Putih di suru pergi mencari baju ibu tirinya itu lagi sampai dapat. Lalu, dengan segera Ia menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Karena ia takut Matahari sudah mulai meninggi. Di tengah perjalanan Bawang putih melihat seekor kerbau yang sedang di mandikan oleh seorang penggembala. Lalu, Bawang putih bertanya: “Pak, apakah paman melihat baju merah yang hanyut? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Oo, baju merah, ya saya melihatnya  kamu kerja cepat-cepat mengikuti arah sungai, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada paman tersebut, Bawang Putih segera berlari menyusuri sungai. Hingga dari kejauhan terlihat cahaya lampu dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.

“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Setiap hari Bawang putih membantu pekerjaan nenek, karena pekerjaan rumah ini adalah pekerjaan yang biasa dilakukannya juga. Tentu saja melihat pekerjaan Bawang Putih nenek tersebut menjadi senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek tersebut lalu mengembalikan baju ibu tirinya sesuai dengan janjunya, dan Bawang Putih di suru memilih salah satu dari 2 bauh labu yang diberikannya. Yang kemudian labu itu dipilihnya walaupun sebelumnya Bawang Putih tidak mau.

Sesampainya di rumah, Bawang putih mengembalikan baju merah milik ibu tirinya. Lalu ia pergi ke dapur untuk membelah labunya. Alangkah terkejutnya Bawang Putih ketika melihat emas permata didalam labu tersebut. Tetapi hal itu di ketahui Oleh Bawang Merah dan ibu tirinya, lalu dengan serakah mereka merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar semua cerita bawang putih, Bawang merah menjadi iri dan ia berencana untuk mendapatkan emas dan permata itu juga. Singkat cerita, akhirnya Bawang Merah tinggal selama seminggu di rumah nenek tersebut seperti Bawang Putih. Selama seminggu itu hanya bermalas-malasan yang dilakukan Bawang Merah. Segala sesuatu yang dikerjakannya hanya setengah – setengah saja. Sama seperti dengan Bawang putih setelah seminggu disana Bawang Merah juga diberikan hak untuk memilih labu. Setelah memilih labunya Bawang Merah berterima kasih dan lansung pergi.

Sesampainya di rumah dengan gembira bawang merah menunjukkan labu kepada ibunya. Dengan segera mereka membelah labu tersebut. Terkejutlah mereka berdua , bukan permata dan emas yang di dapatkannya. Tetapi hewan – hewan berbisa yang ada di dalam labu tersebut. Hewan – hewan tersebut menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas.

Nasehat :
Janganlah kita serakah dan mengingini barang orang lain, dapatkan lah segala sesuatu dengan jirih payah kita sendiri, karena semua itu akan menghasilkan hasil yang baik.

Tags: ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*