Cerita Rakyat dan Motivasi China »

門庭若市

Halaman rumah penuh sesak seperti pasar

| 2,092 views

Halaman rumah penuh sesak seperti pasar

Mén ting ruò shì - 門庭若市
 
Mengiaskan seorang pemimpin, jika bersifat terbuka, rakyat akan datang tanpa merasa takut dan sungkan untuk memberikan saran, kritik, ataupun perbaikan.
Alkisah di Negara Qi ada seorang perdana …

Read the full story »
Cerita Rakyat Nusantara

kumpulan cerita rakyat, legenda dari seluruh wilayah di indonesia

Cerita Rakyat & Motivasi Luar Negeri

kumpulan cerita rakyat dan motivasi dari china, america, dari negara – negara laen di luar Indonesia

Mitos | Myth

Kumpulan cerita Mitos dan Myth yang masih belum di ketahui kebenarannya

Dongeng | Cerita Anak

kumpulan cerita dongeng, cerita anak untuk memberikan inspirasi dan motivasi

Cerita Motivasi

Kumpulan Cerita Motivasi dan Inspirasi, membuka wawasan dan pengetahuan kita dengan bijak

Cerita Rakyat Nusantara »

Kali Gajah Wong

| 3,400 views

cerita rakyat Kali Gajah Wong

Cerita Kali gajah Wong

Cerita Dongeng

*** Joko Kendil ***

Dahulu, Pada waktu itu Sultan Agung sebagai pemimpin Kerajaan Mataram yang mempunyai banyak sekali prajurit, di dalam prajuritnya tersebut ada seorang srati, bernama Ki Sapa Wira.

Sultan Agung mempunyai binatang kesayangan yaitu gajah, Gajah tersebut Setiap paginya selalu di¬mandi¬kan di sungai di dekat Kraton Mataram oleh Ki Sapa Wira. Oleh karena itu, menjadi menurut dengan Ki Sapa Wira. Hingga Suatu hari Ki Sapa Wira sakit, dia menyuruh adiknya Ki Kerti Pejok untuk memandikan Kyai Dwipangga.
.

“Kerti , Tolong gantikan aku memandikan Kyai Dwipangga, ,” kata Ki Sapa Wira.

“Baik, Kang,” jawab Ki Kerti. “Tapi ba¬gai¬mana jika nanti Kyai Dwipangga tidak mau berendam, Kang?” sambungnya.

“Biasanya aku tepuk kaki belakangnya, lalu aku tarik buntutnya,” jawab Ki Sapa Wira.

Menjelang Pagi, Ki Kerti bersiap – siap dan berangkat bersama Ki Dwipangga ke sungai. Perlahan – lahan gajah itu berjalan menuju sungai, gadingnya ber¬warna putih mengkilat dan belalainya panjang, badannya yang besar mencerminkan keperkasaannya. Ki Kerti Pejok mem¬bawakan beberapa buah kepala untuk makanan Ki Dwipangga. Dan juga dengan tujuan supaya dia patuh padanya

Satu persatu buah kelapa tersebut di berikan kepadanya. Kelapa itu diambilnya dengan menggunakan belalainya yang panjang. Ki Dwipangga memakan satu persatu dengan cepat. Setelah menghabiskan beberapa kelapa tersebut, Ki Kerti sudah mengambil cemeti, menyuruh Ki Dwipangga untuk berjalan lagi.

Sesampainya di sungai, Ki Kerti menggiring Ki Dwipangga untuk masuk ke sungai yang lebih dalam. Lalu, Ki Kerti mulai memandikan ga¬jah Ki Dwipangga, sesuai dengan ajaran Ki Sapa Wira. Perlahan – lahan dy membersihkan tubuh gajah tersebut, supaya lumpur-lumpur yang melekat cepat hilang. Selesainya memandikan Ki Dwipangga, segeralah ia pulang dan membawa pulang gajah itu pulang ke kandangnya.

“Kang, gajahnya sudah selesai saya mandikan,”kata Ki Kerti kepada Ki Sapa Wira.

“Ya, terima kasih. Aku harap besok pa¬gi kamu pergi memandikan Ki Dwi¬pang¬ga lagi. Setiap hari gajah itu harus dimandikan, apalagi pada saat musim kawin begini,” jawab Ki Sapa Wira sambil menghisap ce¬rutunya.

Seperti hari sebelumnya, pagi-pagi Ki Kerti mendatangi rumah Ki Sapa Wira, mempersiapkan bekal, dan men¬¬jemput Ki Dwipangga. Pagi itu langit kelihatan agak gelap, Karena itu segeralah Ki Kerti Pe¬jok pergi su¬ngai untuk memandikan Ki Dwipangga. Ketika sampai di sungai tersebut Ki Kerti Pejok agak kecewa ka¬re¬na sungai tempat memandikan gajah tersebut ke¬li¬hat¬an dangkal.

Karena tiap harinya Ki Dwipangga masih harus dimandikan maka, mau tidak mau Ki Kerti Pe¬jok memandikan Ki Dwipangga, walaupun sungainya dangkal. Dia menggosok gajah tersebut. Belum habis Ki Kerti Pejok meng¬¬gerutu, tiba-tiba banjir bandang da¬tang dari arah hulu.

“Hap … Hap … Tulung … Tuluuung …,” teriak Ki Kerti Pejok sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia hanyut dan teng¬gelam bersama Ki Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Keduanya pun mati kare¬na tidak ada seorang pun yang dapat me¬nolongnya.

Untuk mengingat peristiwa tersebut, Sultan Agung menamakan sungai itu Kali Gajah Wong, karena kali itu telah meng¬hanyutkan gajah dan wong. Sungai itu terletak di sebelah timur kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah itu saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembiraloka.

Joko Kendil dan Si Gundul

| 6,149 views
joko kendil

Cerita Rakyat Yogyakarta Joko Kendil dan Si Gundul
Cerita Rakyat Joko Kendil
Cerita rakyat Joko Kendil dan Si Gundul. Cerita yang mengkisahkan tentang dua orang anak yang bersahabat walaupun memiliki perbedaan. Sebuah cerita yang dapat mengajarkan kita …

Asal Mula Telaga Biru

| 12,615 views
wisata telaga biru

Telaga Biru
Legenda Telaga Biru
Cerita Rakyat Telaga Biru

Asal Mula Telaga Biru
Dahulu kala Di provinsi Maluku, di daerah Halmahera terdapat sebuah air di antara pembekuan lahar panas. Karena menggenang dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat airnya menjadi …